Kualitas manusia terletak pada kualitas fungsi otak. Kemampuan daya ingat (memori) adalah ukuran bagi kualitas hidup manusia. Otak dalam proses pendewasaannya membutuhkan faktor -faktor pendukung baik dari dalam berupa bahan makanan, maupun yang berasal dari luar berupa pendidikan formal maupun tidak formal. Diketahui mulai umur 30 tahun berat otak mengalami penurunan yang disebut proses degenerasi. Dalam proses degenerasi ini banyak proses patologis yang bisa bermunculan seperti demensia, depresi yang kesemuanya ini akan bisa berperan dalam mempengaruhi fungsi otak.

Mudah lupa (forgetfulness) merupakan fenomena yang banyak dijumpai dalam masyarakat lanjut usia. Mudah lupa dapat berwujud sebagai kondisi yang wajar (benign senescent forgetfulness) yang wajar-wajar saja. Tetapi mudah lupa wajar dapat berlanjut menjadi tidak wajar lagi dan disebut malignant forgetfulness dengan berbagai manifestasi antara lain gangguan kognitif (proses berpikir) ringan. Bahkan mudah lupa dapat merupakan gejala yang dominan dan awal dari demensia atau kepikunan.

Jumlah penderita demensia di negara yang sedang berkembang saat ini semakin meningkat. Hal ini sejalan dengan meningkatnya angka harapan hidup. Demensia merupakan suatu kumpulan gejala (sindroma) klinis ditandai oleh gangguan memori dan gangguan fungsi kognitif berupa penurunan daya ingat dan penurunan fungsi intelektual yang menyebabkan perubahan perilaku sehingga mengganggu aktivitas sehari-hari. Demensia atau pikun adalah gejala lanjut usia yang amat ditakuti, karena orang pikun tidak dapat memelihara dirinya sendiri, tidak mandiri, tidak mengenal lagi lingkungannya, bahkan sanak keluarga pun tidak dikenal, malah pasangannya dianggap sebagai orang asing.

Gejala Pikun atau Demensia

Gejala stadium awal demensia berupa kemunduran memori jangka pendek, kemunduran kemampuan mempelajari dan mempertahankan informasi baru, penderita mengulang-ngulang sesuatu dan lupa pembicaraan atau janji, kemunduran dalam membuat alasan dan berpikir abstrak, kesulitan membaca kalender atau menunjuk waktu, kesulitan memasak makanan, menghitung uang atau tugas lain yang membutuhkan tindakan berurutan, kemunduran dalam membuat keputusan, pertimbangan dan perencanaan, keterampilan berbahasa terganggu, sangat sulit menemukan kata-kata yang tepat untuk mengekspresikan pikiran, serta kehilangan inhibisi dan kontrol impuls. Gejala-gejala tersebut tidak dengan sendirinya didiagnosis sebagai demensia, masih diperlukan riwayat hidup keluarga, pemeriksaan fisik, fungsional, penilaian status mental, pemeriksaan penunjang, penetapan kriteria diagnosis dan evaluasi diagnostik.

Penanganan Pikun atau Demensia

Penanganan lanjut usia bergantung pada kondisi orang yang sudah tua, apakah masih normal, mudah lupa yang wajar, sudah mengalami gangguan kognitif ringan atau sudah mengalami demensia. Penanganan prinsipnya sama, hanya bobot yang berbeda. Pengenalan deteksi kemunduran kognitif sebaiknya dilakukan sedini mungkin. Menemukan gejala awal demensia mempunyai makna yang besar bagi penderita dan keluarganya. Pengenalan dini demensia memberikan kesempatan bagi penderita dan keluarganya untuk memanfaatkan berbagai bantuan dan strategi untuk persiapan dan mengurangi masalah pekerjaan, pelayanan medis, keuangan, dan emosional yang dapat terjadi di kemudian hari dalam perjalanan penyakitnya. Perlu adanya observasi yang terus-menerus pada populasi lanjut usia dalam upaya pendeteksian dini fenomena yang tidak wajar lagi.

The post Mengenal Pikun atau Dimensia – Lengkap appeared first on RSIY PDHI.

Bagikan ke :